Pages

Monday, April 30, 2012

Free Seminar Menjadi Jutawan di Bisnis Properti

Jangan lewatkan kesempatan untuk mendapatkan unlimited 
income tanpa terikat jam kerja dan modal yang besar. Hanya
bagi Anda yang berambisi tinggi, profesional, giat, jujur,
suka tantangan dan bergaul. Tempat terbatas untuk 15 orang,
Sabtu tgl 5 Mei 2012 jam 10 pagi. Daftar segera di
Ray White Mulyosari, Jalan Raya Mulyosari,
Ruko Central Park AA-11. Telp: 031 596 1055.

Wednesday, April 11, 2012

Bergabunglah Menjadi Agen Properti Profesional Ray White

Dunia properti sekarang ini lagi menggeliat...... Bunga KPR sangat rendah, pembangunan real estate dimana-mana....

Dengan modal/investasi yang kecil, jangan lewatkan kesempatan untuk mendapat keuntungan yang besar melalui bisnis properti.

- Anda tertarik dengan dunia properti?
- Anda ingin pendapatan tambahan yang tidak terbatas nilainya?
- Anda senang bekerja dengan bertemu banyak orang sekaligus menambah koneksi Anda?
- Anda ingin pekerjaan dengan waktu yang fleksibel (tidak harus ngantor tiap hari) dan penghasilan yang tidak terbatas?
- Anda ingin menjadi marketing / agen properti yang handal dengan di-support jaringan yang sangat luas?
- Anda punya waktu senggang/lebih yang bisa digunakan untuk mendapatkan penghasilan sampingan yang tidak terbatas?

Jika Anda menjawab "YA" terhadap salah satu (atau lebih) pertanyaan di atas, bergabunglah dengan kami! Segera!!!! Jangan sampai kesempatan ini terlewatkan....

Hubungi kami untuk penjelasan lebih lanjut dan interview:
Ray White Mulyosari
Jual-Beli-Sewa-Lelang Properti
Jl. Raya Mulyosari (Ruko Central Park) AA-11
Surabaya
Telp: (031) 596-1055
Fax: (031) 593-0406
Email: mulyosari.raywhite@gmail.com
Facebook Page: Ray White Mulyosari Surabaya
Twitter: @RWMulyosari_Sby
Website: www.rwmulyosari.com
Blogspot: duniapropertiindonesia.blogspot.com

Monday, April 9, 2012

Stop...Jangan Tertipu Agen Properti "Nakal"!

JUAL RUMAH
Latief | Selasa, 20 Maret 2012 | 16:04 WIB


Agen jual profesional mengetahui pasar properti lokal. Biasanya mereka akan menganalisis nilai investasi properti Anda secara riil dan memasukkannya ke listing pasar mereka.


KOMPAS.com - Salah satu masalah sering dihadapi orang yang pindah tempat tinggal ke kota lain adalah menjual properti miliknya. Sesulit apa menjualnya?
Saat ini, meskipun tren bisnis properti terus menanjak, menjual rumah tidaklah segampang yang diperkirakan. Oleh karena itu, beberapa orang memilih menggunakan agen properti untuk membantu menjual rumah.
Tingginya keuntungan bisnis ini membuat agen properti tumbuh subur. Namun, sayangnya tidak semua agen properti itu punya track record baik, bahkan beberapa ada yang "nakal". Oleh karena itu, berarti-hatilah dalam memilih agen properti untuk membantu menjual rumah Anda. Berikut ini beberapa poin perlu Anda perhatikan sebelum memilih agen properti:


Lisensi
Untuk mengetahui agen tersebut profesional atau tidak, Anda perlu mengecek lisensi dari agen tersebut, apakah mereka sudah terdaftar atau belum. Agen profesional biasanya mendapat dukungan penuh dari kantor agen berupa kerja sama dengan lembaga hukum, appraisal, periklanan, dan bank.


Mengetahui pasar
Agen jual profesional mengetahui pasar properti lokal. Biasanya mereka akan menganalisis nilai investasi properti Anda secara riil dan memasukkannya ke listing pasar mereka. Selain itu, mereka juga memiliki pengetahuan luas mengenai area tersebut, baik kelemahan maupun kelebihan investasi di daerah bersangkutan.


Database
Agen jual profesional harus memiliki database mengenai pembeli potensial. Hal ini untuk memudahkan mereka mencocokkan calon pembeli dengan nilai rumah Anda yang ingin dijual. Semakin banyak cabang mereka di beberapa kota, berarti database pembelinya juga banyak.


Mengetahui minat
Mereka biasanya membawa langsung pembeli ke lokasi properti Anda dan menjelaskan kepada calon pembeli. Tentunya, hal ini setelah mencocokkan profil konsumen dengan nilai rumah Anda. Kemampuan ini memang dasar dari seorang agen profesional. Perlu dicatat, agen properti yang baik tidak hanya pintar bicara, tetapi juga bisa memberikan bukti.


Membantu negosiasi
Biasanya, agen properti akan bertindak sebagai penasihat, bukan sebagai perantara. Agen properti yang baik akan berusaha memberikan yang terbaik untuk menjual properti Anda dengan bernegosiasi dengan pembeli. Nah, jika sudah terjual, mereka akan mengatur dari pembayaran sampai dengan sertifikasi. (VTO)


Sumber :
Kompas Klasika

Uang Muka KPR Melambung Demi Cegah "Bubble"?

KREDIT PROPERTI

Latief | Senin, 19 Maret 2012 | 11:24 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan down payment (DP) alias uang muka kredit rumah (KPR) hingga 30% dari harga, masih menuai pro kontra. Kendati bertujuan baik, yakni mencegah gelembung harga properti (bubble), sejumlah kalangan melihat belum ada indikasi bubble di industri properti dan pembiayaan (multifinance).


Permintaan rumah di bawah Rp 1 miliar masih baik. Kebijakan LTV 70% bagus untuk mencegah spekulasi di perumahan, khususnya apartemen.
-- Evi Firmansyah
Para pelaku di industri perbankan dan multifinance sendiri membantah telah terjadi bubble kredit perumahan dan kendaraan bermotor. Wakil Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN), Evi Firmansyah, berpendapat, indikator bubble adalah walau pasokan mencukupi, harga properti naik terus. Hal ini terjadi karena nasabah memanfaatkan uang muka kecil untuk spekulasi.
"Kadang-kadang hanya membayar tanda jadi, bila harga properti naik, properti segera dijual," ujarnya.
Indikator bubble apartemen kelas atas mungkin mulai terlihat karena terjadi kelebihan permintaan dan harga naik lebih dari 10% per tahun. Tapi, di apartemen menengah ke bawah belum terlihat gejala itu.
"Permintaan rumah di bawah Rp 1 miliar masih baik. Kebijakan LTV 70% bagus untuk mencegah spekulasi di perumahan, khususnya apartemen," tambah Evi.
Indrastomo Nugroho, Head of Product Development and Business Credit Consumer Bank BNI, juga menilai, potensi bubble properti belum terlihat. Alasannya, pertumbuhan KPR masih di bawah kebutuhan dan permintaan rumah.
"Bubble terjadi bila pertumbuhan KPR lebih tinggi dari ketersedian rumah. Artinya, ada rumah yang dibiayai 2-3 tiga kali oleh orang berbeda," ujarnya.
Kebanyakan rumah yang dibiayai perbankan merupakan rumah pertama untuk tempat tinggal.
"Jika banyak rumah untuk investasi, bisa jadi bubble," kata Indrastomo.
Sebelumnya diberitakan, para calon pembeli rumah dengan luas bangunan lebih dari 70 meter persegi melalui fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) harus menyiapkan uang muka minimum 30% dari harga jual rumah. Peraturan Bank Indonesia ini berlaku mulai 15 Juni 2012.
Sumber :
Sumber : http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/03/19/11243746/Uang.Muka.KPR.Melambung.Demi.Cegah.Bubble

Maksimal KPR Hanya Boleh 70 Persen

Marcus Suprihadi | Jumat, 16 Maret 2012 | 12:50 WIB
Peraturan Baru

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia mengatur besaran loan to value (LTV) untuk kredit pemilikan rumah maksimum 70 persen. Aturan dalam bentuk surat edaran tertanggal 15 Maret 2012 itu memberikan masa transisi tiga bulan bagi bank untuk menerapkannya.

Calon nasabah yang akan membeli rumah dengan luas lebih dari 70 meter persegi harus menyiapkan uang muka minimal 30 persen dari harga rumah.

Demikian isi siaran pers yang ditandatangani Direktur Perencanaan Strategis dan Kehumasan Bank Indonesia Dodi Budi Waluyo, di Jakarta, Jumat (16/3/2012).
Rasio LTV adalah angka rasio antara nilai kredit yang dapat diberikan oleh bank terhadap nilai agunan pada saat awal pemberian kredit. "Ruang lingkup KPR yang dimakud meliputi kredit konsumsi kepemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen, namun tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe bangunan lebih dari 70 meter persegi," jelas siaran pers itu.
Pengaturan mengenai LTV dikecualikan terhadap KPR dalam rangka pelaksanaan program perumahan pemerintah.
Dengan demikian, bagi calon nasabah KPR yang akan membeli rumah dengan luas lebih dari 70 meter persegi, harus menyiapkan uang muka minimal 30 persen dari harga rumah. Bank dapat memberikan kredit yang besarnya maksimal 70 persen dari harga rumah.

7 Pertimbangan Membeli Rumah Lama

Latief | Jumat, 16 Maret 2012 | 12:40 WIB
BELI RUMAH

Periksa kondisi rumah dengan mengunjungi langsung rumah yang akan Anda beli untuk mengetahui kondisi bangunannya, seperti tembok retak, kebocoran atap, atau rembesan air hujan di tembok.

KOMPAS.com - Memiliki rumah baru kadang muncul karena faktor kebutuhan yang mendesak. Umpamanya, karena pekerjaan baru, Anda terpaksa pindah ke kota baru atau rumah kontrakan harus segera dikosongkan. Nah, bagaimana jika muncul ide untuk membeli rumah lama saja?
Membeli sebuah rumah baru atau lama tentu ada perbedaan untung dan ruginya. Khusus memilih rumah lama, simak beberapa hal penting di bawah ini sebelum Anda memilihnya: 
1. Usahakan membeli rumah langsung dari pemiliknya. Ini akan lebih menguntungkan karena bisa memperoleh informasi secara detail. Harga pun akan jauh lebih murah sebab penjual tidak perlu memberi komisi kepada perantara.
2. Pilih perantara yang tepat, jika Anda terpaksa membeli melalui perantara. Ada baiknya, Anda pilih perantara yang sudah dikenal, baik dari saudara atau teman dan relasi. Jika tidak, jangan ragu gunakan pialang terkenal dengan reputasi baik.
3. Perhatikan usia bangunan, mengingat rumah yang Anda beli bukan rumah baru. Secara sederhana, usia bangunan rumah bisa diklasifikasikan menjadi:
- baru (kurang dari 10 tahun)
- sedang (10 hingga 20 tahun)
- tua lebih dari 20 tahun
Selain itu, Anda sebagai pembeli juga perlu menanyakan kapan terakhir kali rumah tersebut direnovasi. Semakin tua bangunan, semakin penting Anda mempertimbangkan anggaran renovasi. 
4. Periksa dokumen kelengkapan rumah, mulai keaslian sertifikat rumah, sertifikat IMB, serta bukti pembayaran pajak, bumi dan bangunan (PBB). Jika nama dalam surat-surat tidak sama dengan nama penjual, Anda perlu tanyakan status hubungannya. Jika penjual belum melakukan proses balik nama, Anda perlu meminta akta jual-beli yang sah atas nama rumah. Namun, khusus untuk rumah berstatus harta warisan, Anda perlu menanyakan berapa banyak ahli waris sahnya. Ini penting guna menghindari masalah hukum di kemudian hari.
5. Anda perlu mengetahui kisaran harga. Untuk itu, cari informasi sebanyak-banyaknya tentang harga pasaran tanah dan rumah di sekitar lokasi sehingga Anda bisa melakukan penawaran dan kisaran harga yang wajar.
6. Pilih lokasi dengan cermat dengan menggali sebanyak-banyaknya informasi untuk mengetahui situasi lingkungan calon rumah Anda ini.
7. Periksa kondisi rumah dengan mengunjungi langsung rumah yang akan Anda beli. Hal ini penting untuk mengetahui kondisi bangunannya, seperti tembok yang retak, kebocoran atap, atau rembesan air hujan di tembok.
Nah, selamat berburu calon "rumah baru" Anda!
Sumber :
Kompas Ekstra

Kredit Properti Terus Melejit

KOMPAS.com - Kredit yang dikucurkan perbankan untuk konsumsi hunian meningkat cukup pesat. Dalam dua tahun terakhir, kredit pemilikan rumah (KPR) tumbuh hingga 29% dari Rp 136,5 triliun (Desember 2010) menjadi Rp 176,5 triliun pada Desember 2011 lalu.
Sementara itu, kredit kepemilikan flat dan apartemen tumbuh jauh lebih pesat sepanjang periode yang sama, yakni mencapai 47%. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia mencatat, penjualan properti residensial di 14 kota besar di Indonesia meningkat signifikan pada semua tipe, baik tipe kecil menengah maupun besar. Bahkan, pada triwulan II dan III 2011 penjualan properti tipe menengah melampaui penjualan properti tipe kecil.
Kondisi tersebut tak lepas dari pertumbuhan masyarakat kelas menengah yang proporsinya pada 2012 mencapai separuh lebih dari total penduduk Indonesia. (BIMA BASKARA/LITBANG KOMPAS).

Sumber :
Kompas Ekstra 
Sumber :

Hitung Lagi, Untung-Rugi Hidup di Apartemen

Latief | Kamis, 8 Maret 2012 | 15:22 WIB

Perlu dicamkan, bahwa klausul yang tertuang dalam perjanjian perikatan jual beli dan akta jual beli harus terbuka serta diketahui bersama antara konsumen dan pengembang.

KOMPAS.com - Tinggal di rumah susun kian menjadi pilihan masyarakat urban. Kemudahan akses transportasi, fasilitas lengkap yang tersedia, serta kedekatan dengan lokasi kerja membuat rumah susun menjadi solusi hunian di perkotaan.
Pengamat hukum properti Erwin Kallo mengemukakan, sepanjang masalah kemacetan belum terpecahkan, permintaan rumah susun akan terus terjadi. Namun, antusiasme masyarakat untuk menetap di rumah susun tetap membawa konsekuensi. Hal itu karena tinggal di gedung bertingkat memiliki perbedaan nyata dengan human tapak (horizontal), seperti perumahan atau real estat.
Minimnya informasi tentang status dan kelayakan bangunan hingga pengawasan rumah susun yang minim juga kerap menimbulkan masalah. Hal sering terjadi adalah, konsumen yang telah menempati hunian baru menyadari bahwa bangunan tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditawarkan pengembang. Human vertikal dengan isi ratusan hingga ribuan unit juga berpotensi menjadi sarang kriminal, prostitusi, dan narkoba.
Kerugian tinggal di apartemen akan terjadi jika konsumen kurang peduli terhadap masalah kepenghunian dan pengelolaan rumah susun. Untuk itu, kenali semua hak dan kewajiban penghuni.
Perlu dicamkan, bahwa klausul yang tertuang dalam perjanjian perikatan jual beli dan akta jual beli harus terbuka serta diketahui bersama antara konsumen dan pengembang. Maka, sebelum serah terima hunian, Anda sebagai konsumen berhak mengetahui detail bangunan, apakah sesuai dengan standar dan layak huni. Selain itu, kelengkapan fasilitas dan administrasi bangunan, seperti kelengkapan dokumen perizinan serta sertifikat tanah.
Pemahaman tentang kondisi bangunan akan memudahkan penghuni mengelola bangunan. Sebab, konsumen memiliki tanggung jawab mengawasi serta mengelola tanah bersama, benda bersama, dan bagian bersama.
Adapun pengelolaan rumah susun diserahkan kepada perhimpunan penghuni rumah susun (PPRS) yang merupakan paguyuban bentukan warga pemilik atau penghuni. PPRS akan mengurus dan mengelola rumah susun, termasuk memungut iuran warga. Setiap bulan, ada iuran pengelolaan yang wajib dibayar, di antaranya biaya layanan (service charge), air, listrik, dan perawatan bangunan.
Menurut Erwin, konsumen tidak perlu alergi terhadap pungutan iuran pengelolaan sebab dana bersama itu dibutuhkan untuk menjaga kualitas bangunan bersama.
"Yang terpenting dalam pengelolaan rumah susun adalah pertanggungjawaban," ujarnya.
Sementara itu, potensi konflik di rumah susun perlu ditekan dengan membiasakan diri hidup di rumah susun. Berbeda dengan rumah tapak, hunian rumah susun yang berimpitan membutuhkan toleransi dan kedisiplinan antarpenghuni. Setiap bangunan rumah susun memiliki aturan terkait dengan kepenghunian. Sepanjang penghuni sadar untuk menaati aturan dan ada mekanisme pengawasan yang jelas dari PPRS, keharmonisan hidup di rumah susun akan terjaga. (LKT)

Sumber :
Kompas Ekstra
http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/03/08/15222345/Hitung.Lagi.Untung-Rugi.Hidup.di.Apartemen

Hal Penting Sebelum Menaksir Harga Rumah

Natalia Ririh | Latief | Kamis, 1 Maret 2012 | 13:22 WIB

Harga bangunan juga bisa dilihat dari beberapa hal seperti usia bangunan, material pendukungya, konsep arsitekturnya, serta siapakah arsitek dan kontraktornya.

KOMPAS.com — Untuk menaksir harga sebuah rumah, Anda harus mengetahui dua komponen utamanya. Dengan memahami hal ini, Anda bisa menentukan manakah rumah yang lebih tepat untuk dibeli.

Hermawan Wijaya, dalam bukunya 77 Rahasia Cepat Untung Bisnis Properti, mengatakan, dua komponen yang memengaruhi harga rumah itu adalah harga tanah dan harga bangunan. Untuk mengetahui harga tanahnya, dapat dilihat dari permintaan (demand), penawaran (supply), status kepemilikan (contohnya girik, SIP, SHGB, SHM, SKJ), dan perizinan lahan (seperti GSB, golongan pemugaran).

Harga tanah juga bisa ditentukan dari strukturnya, apakah rendah di depan atau tinggi di kanan, juga dilihat dari sifat tanahnya, misalnya tanah rawa atau tanah liat. Kemudian, bentuknya, baik trapesium, persegi panjang, simetris, maupun bentuk lainnya.
Posisi juga menentukan, begitu pula dengan letaknya. Kelengkapan fasilitas umum dan khusus di sekitar rumah, rencana pengembangan kawasan, serta siapakah pengembangnya juga memengaruhi harga tanah.
Sementara itu, harga bangunan bisa dilihat dari beberapa hal, seperti usia bangunan, material pendukungnya, konsep arsitekturnya, serta siapakah arsitek dan kontraktornya. Semakin lengkap data ini, maka harganya akan semakin mahal. Namun, kondisinya tetap aman dari sisi hukum.
Sumber :
http://properti.kompas.com/index.php/read/2012/03/01/13223595/Hal.Penting.Sebelum.Menaksir.Harga.Rumah

Segera, Pastikan Status Hukum Kepemilikan Tanah Anda!

Latief | Jumat, 2 Maret 2012 | 15:51 WIB

Dalam perkembangannya, atas kebutuhan perumahan di perkotaan yang memerlukan bangunan perumahan dalam bentuk vertikal, ada jenis sertifikat baru, yakni sertifikat hak atas satuan rumah susun (SHSRS).
KOMPAS.com - Hal terpenting sebelum kita memutuskan untuk membeli properti, baik tanah, rumah, maupun apartemen, adalah status hukum atas properti tersebut. Status hukum atas properti yang kita beli biasanya dibuktikan melalui sertifikat.
Sangat penting bagi siapa pun yang memiliki dan menguasai tanah untuk mendapatkan sertifikat. Sertifikat menjadi bukti penguasaan yang sah atas hukum atas tanah.
-- Doli Manahan Panggabean
Sertifikat menjadi bukti kepemilikan atau penguasaan atas tanah atau lahan. Tak hanya memastikan status hukum atas hak kepemilikan atau penguasaan atas tanah/lahan, sertifikat juga memiliki fungsi lain.
Namun, fungsi utama sertifikat tetap sebagai alat bukti kepemilikan atau penguasaan yang sah atas tanah atau lahan. Secara administratif, selain menjadi bukti kepemilikan sah secara hukum, sertifikat juga menjadi syarat jika kita ingin mendirikan bangunan di atas tanah yang kita kuasai.
Syarat penerbitan izin mendirikan bangunan (IMB) salah satunya adalah sertifikat tersebut. Secara ekonomis, sertifikat juga digunakan sebagai jaminan pembiayaan jika kita membutuhkan pinjaman dari bank.
"Sangat penting bagi siapa pun yang memiliki dan menguasai tanah untuk mendapatkan sertifikat. Sertifikat menjadi bukti penguasaan yang sah atas hukum atas tanah," ujar Kepala Bidang Humas Badan Pertanahan Republik Indonesia, Doli Manahan Panggabean.
Ada beberapa macam sertifikat hak atas tanah yang dikenal dalam tindang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Agraria, yakni sertifikat hak milik (SHM) dan sertifikat hak guna bangunan (SHGB). Dalam perkembangannya, atas kebutuhan perumahan di perkotaan yang memerlukan bangunan perumahan dalam bentuk vertikal, ada jenis sertifikat baru, yakni sertifikat hak atas satuan rumah susun (SHSRS).
SHM
SHM merupakan jenis sertifikat dengan kepemilikan hak atas penuh oleh pemegang sertifikat tersebut. SHM juga menjadi bukti kepemilikan paling kuat atas lahan atau tanah karena tidak ada lagi campur tangan ataupun kemungkinan kepemilikan pihak lain.
Status SHM juga tak memiliki batas waktu. Sebagai bukti kepemilikan paling kuat, SHM menjadi alat paling valid untuk melakukan transaksi jual beli maupun penjaminan untuk kepentingan pembiayaan perbankan.
Sertifikat tanah jenis kedua adalah SHGB. Secara sederhana, pemegang SHGB berhak mendirikan bangunan di atas tanah yang memiliki sertifikat jenis tersebut. Akan tetapi, kepemilikan tanah atau lahan menjadi milik negara.
SHGB
SHGB memiliki batas waktu tertentu, biasanya 20 tahun. Pemilik SHGB bisa saja meningkatkan status kepemilikan atas tanah yang mereka kuasai dalam bentuk SHM. Biasanya peningkatan status sertifikat dari SHGB ke SHM karena di atas tanah itu didirikan bangunan tempat tinggal.
"Sepanjang bidang tanah tersebut terdapat bangunan yang dipergunakan untuk rumah tinggal, dapat ditingkatkan menjadi hak milik. Biaya peningkatan itu sebenarnya tidak ada. Hanya cukup mendaftarkan diri untuk peningkatan hak milik dengan ketentuan yang berlaku, ada IMB, jika tak ada IMB cukup diganti surat Model PNI dari kelurahan di atas tanah bidang tersebut yang menyatakan untuk rumah tinggal," kata Doli.
SHSRS
Adapun SHSRS berhubungan dengan kepemilikan seseorang atas rumah vertikal, rumah susun yang dibangun di atas tanah dengan kepemilikan bersama. Hak milik atas satuan rumah susun bersifat perorangan dan terpisah.
Akan tetapi, selain atas kepemilikan atas satuan rumah susun, hak milik satuan rumah susun tersebut juga meliputi hak kepemilikan bersama atau yang disebut sebagai bagian bersama, tanah bersama, dan benda bersama, terpisah dari kepemilikan satu rumah susun. Inilah yang sering disebut sebagai strata title.

Strata title merupakan sistem yang memungkinkan pembagian tanah dan bangunan dalam unit-unit yang disebut satuan, dalam hal ini satuan rumah susun. Secara sederhana, bangunan vertikal untuk perumahan ada tiga jenis, yakni rumah susun, apartemen, dan kondominium. Namun, untuk memudahkan, karena pengaturan undang-undang, yakni Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun, digunakan istilah rumah susun untuk mengacu pada bangunan vertikal yang digunakan sebagai tempat tinggal.
Pengaturan kepemilikan bersama dalam satuan rumah susun digunakan untuk memberi dasar kedudukan atas bench tak bergerak yang menjadi obyek kepemilikan. Bench bersama tersebut, antara lain, taman, tempat parkir, tempat bermain, dan tempat ibadah yang sifatnya terpisah dari struktur bangunan rumah susun. Adapun tanah bersama adalah tanah yang digunakan atas dasar hak bersama secara tidak terpisah yang di atasnya berdiri rumah susun dan ditetapkan batasnya dalam persyaratan lain izin bangunan.
Jangka waktu strata title biasanya mengikuti status tanah di mana bangunan rumah susun itu berdiri. Jika status tanahnya masih merupakan HGB, pada akhir masa haknya pemilik sertifikat strata title harus bersama-sama memperpanjang HGB atas tanahnya.
Namun, akan berbeda jika status tanahnya SHM. Perbedaan status tanah ini penting karena hanya warga negara Indonesia (WNI) yang berhak mendapatkan SHM. Jadi, orang asing tak boleh membeli rumah susun atau apartemen jika status tanah di atas bangunan rumah susun atau apartemen tersebut adalah SHM.
Menurut Doli, sebenarnya negara juga mengakui hak atas tanah yang statusnya belum disertifikasikan, seperti girik, letter C, dan eigondem verponding atau verponding Indonesia.
"Semua diakui. Hanya saja, sertifikat adalah bentuk peningkatan dari berbagai macam pengakuan hak atas tanah, seperti letter C, eigendom verponding, yang tidak tercatat di kantor pertanahan. Pemegang girik atau letter C bisa mencatatkannya ke kantor pertanahan untuk disertifikasi sehingga kepemilikan atau penguasaan atas tanah-tanahnya teregistrasi dan sah secara hukum," kata Doli.
(KHAERUDIN)

Sumber :
Kompas Ekstra

Kompas: "Catat...4 Masalah Kerap Menimpa Pembeli Rumah!"

Natalia Ririh | Latief | Jumat, 2 Maret 2012 | 16:09 WIB
Catat...4 Masalah Kerap Menimpa Pembeli Rumah!

KOMPAS.com - Perlindungan konsumen properti, terutama bagi pembeli rumah di Indonesia, dinilai masih sangat lemah. Hal ini karena sistem transaksi dan aturan hukum yang berlaku belum berpihak pada konsumen.
Pakar hukum properti, Erwin Kallo, mengatakan, setidaknya ada empat masalah umum yang paling sering dialami konsumen di Indonesia. Yakni, serah terima yang mundur, masalah spesifikasi bangunan, sertifikasi, dan balik nama yang lama di notaris.
Serah terima mundur
Erwin mengatakan, penyerahterimaan yang mundur atau hand over masih banyak dialami konsumen. Mundurnya jadwal serah terima ini, misalnya, karena pengembang menyatakan belum menyelesaikan pembangunan seluruh kavling, sementara konsumen sudah membayar lunas.
Tak hanya mundur. Erwin bahkan menyayangkan, banyak konsumen harus menderita karena rumahnya tidak ada kepastian terbangun sehingga mangkrak.
Spesifikasi bangunan
Dalam klausul perjanjian antara pengembang dengan pembeli disebutkan, bahwa pengembang bertanggung jawab untuk perawatan dalam jangka waktu tertentu. Namun, kata Erwin, klausul ini masih lemah karena pengembang hanya bertanggung jawab pada apa yang tampak. Lalu, bagaimana dengan hal-hal yang tidak tampak seperti fondasi bangunan, rangka, struktur dan lainnya?
Menurut Erwin, hal tak tampak itu tidak mungkin satu persatu diperiksa oleh konsumen. Garansi pengembang yang terbatas ini menurutnya tidak adil.
Sertifikasi
Masalah konsumen lainnya adalah tentang sertifikasi yang belum diterima. Di Indonesia, kerap terjadi penyerahan rumah sudah berlangsung, namun sertifikatnya tidak jelas kapan.
Penyebabnya bisa bermacam-macam. Sebutlah misalnya, pengembang masih menjaminkan sertifikat ke bank dan belum dilunasi. Saat ditanyakan, pengembang bisa berkilah, bahwa dalam perjanjian pihaknya menyerahkan rumah, tapi bukan sertifikatnya.
Alasan lainnya, pengembang hendak berlaku irit, yaitu menunggu semua kavling terbeli dan kemudian baru menebus sertifikatnya di bank. Tentu saja, hal ini ini tidak adil bagi pembeli yang telah menempati lahan lebih lama.
Erwin menilai, hal ini bukan semata-mata persoalan hak fisik rumah milik konsumen. Sertifikat rumah memiliki dasar yuridis konsumen.
Balik nama yang lama di notaris
Lamanya sertifikat tanah tidak sampai di tangan konsumen ternyata bukan berasal dari pengembang nakal saja. Karena, bisa saja proses sertifikasi terhambat di saat balik nama di notaris.
Erwin menceritakan pengalamannya yang harus menunggu balik nama selama 8 bulan. Padahal, kata dia, sertifikat sudah diserahkan oleh pengembang.
Notaris, katanya, merasa rugi harus mengurus satu persatu Akta Jual Beli (AJB) ke BPN. Dia menunggu dulu sampai banyak, baru kemudian mengurusnya. Padahal, dalam ketentuan Badan Pertanahan Nasional (BPN), proses balik nama hanya memakan waktu 1 - 2 minggu saja.

Sumber :

Thursday, April 5, 2012

Dijual Tanah San Antonio Pakuwon City Surabaya Timur

Dijual Tanah San Antonio Pakuwon City Surabaya Timur

Luas Tanah: 180m2 (10x18)
Hadap: Barat
SPPJB

Harga: Rp 7.500.000 / m2 (Nego)

Terletak di cluster Pakuwon City yang sangat bagus dan nyaman, harga meningkat tajam, nilai investasi tinggi.

Tanah langsung berbelakangan dengan tanah komersial Pakuwon City yang harganya sudah sangat tinggi.


Hubungi:
Ferry
Ray White Mulyosari
031-8168-5533
08-777-570-4895

Monday, April 2, 2012

DIJUAL RUMAH NGINDEN INTAN UTARA - BAHRI


Nginden Intan Utara
Surabaya Timur
Rp. 1.300.000.000 >>>>> Rp 950.000.000
AC 1, Garasi 1, PDAM
KT 18 
KM 5 
Luas LT/LB
Bangunan
Hadap
Sertifikat
Listrik
10 x17m2
2 Lantai
Utara
SHM
4500 Watt                                                            


Dijual rumah kost-kost an di daerah Surabaya Timur. Peluang investasi yang sangat menarik dan menguntungkan.


http://rwmulyosari.com/dijual/rumah/Nginden/201203RM0004 


Hubungi:
Bahri
Ray White Mulyosari
031-7244 1821
0817 0344 9236
0852 3104 1084